Senin, 14 Maret 2016

LGBT

Saya sedang dalam perjalanan menuju suatu tempat, ketika akhirnya saya melihat segerombolan orang berseragam menyetop para pengendara motor. Saya tidak asing dengan seragam tersebut. Sebelum sampai diberhentikan oleh gerombolan tersebut, saya menghentikan laju motor, lirak-lirik, plonga-plongo, dan memasang gestur panik.

Dan, dapat. Seseorang tidak berseragam menyapa saya dari belakang. Di lihat dari lagaknya, sepertinya ia adalah bagian dari orang-orang berseragam tersebut. Dan benar.

"Surat-surat!" ucap orang tersebut.

Mengerti apa yang dimaksud, saya kemudian membuka tas, mengambil dompet. Lalu mengeluarkan STNK dan menyerahkannya pada orang tersebut. Setelah melihat STNK saya, ia bertanya.

"SIM-nya ngga ada?" tanyanya penuh harap.

"Ada lah, pak" jawab saya.

Kemudian saya memberikan SIM, dan ia menerimanya. Kemudian memeriksanya. Belum puas melihat STNK dan SIM saya, orang tersebut masih mencoba mencari celah.

"Coba buka jok motornya" ucap orang tersebut.

Saya kemudian mengikuti instruksinya, membuka jok motor dan mempersilahkan orang tersebut memeriksanya. Kemudian ia mengorek-ngorek seisi jok motor. Mendapati yang ia dapatkan hanya dua setel jas hujan, orang tersebut berkomentar;

"Banyak banget jas hujannya".

Saya diam. Kemudian setelah saya mendapatkan kembali STNK dan SIM, saya langsung cabut.

*LGBT=LaGi BeTe

Share: 

Rabu, 02 Maret 2016

Taman di utara Kota Bekasi

Jadi, di utara kota Bekasi ada sebuah taman kota yang tidak terlalu luas juga tidak terlalu kecil. Ketika malam tiba, taman tersebut akan ramai oleh para pengunjung, mulai dari anak muda muda sampai orang tua. Salah satu yang membuat taman tersebut ramai adalah para pedagang kaki lima yang menjajakan dagangannya disisi-sisi taman.

Kebanyakan adalah para penjual makanan dan jajanan. Mulai dari roti bakar, soto, gorengan, sampai dengan nasi kucing dan es teh manis. Setiap pedagang biasanya memiliki tiker, yang nantinya akan mereka gelar jika ada pengunjung yang membeli makanannya. Jadi, para pembeli akan duduk lesehan sambil menyantap makanan ataupun jajanan yang mereka beli sambil ngobrol-ngobrol dengan kawan, ataupun pacar.

Tidak jarang juga ada keluarga kecil yang lesehan sambil makan-makan dan menikmati malam bersama suami atau isteri dan anak.

Suatu malam, di taman tersebut. Duduk dua orang muda-mudi. Seperti pengunjung lainnya, muda-mudi ini juga sedang menyantap makanan. Si cewek menyantap soto, sedangkan si cowok asik makan nasi kucing. Setelah selesai menyantap makanan, mereka meletakan piring dan mangkuk dipinggir tempat mereka lesehan, lalu ngobrol berbagi kisah dan keluh kesah.

Dunia mungkin terasa indah dimata mereka. Duduk berdua, dibawah sinar bulan yang terang. Sampai akhirnya, seorang anak lelaki menghampiri mereka. Bajunya tidak bisa dikatakan bagus. Terlihat dibeberapa bagian ada lubang yang membuat baju jadi tampak tidak karuan.

Badannya juga tidak bisa dibilang bersih. Dengan kaki tanpa alas, dan wajah yang cemong sana-sini.

"A, sotonya buat aku ya..." tanya bocah lelaki itu. Di belakangnya juga ada beberapa bocah sebayanya, yang sepertinya menunggu apa yang akan "didapatkannya".

Si cowok tidak terlalu memperdulikannya. Ia hanya menjawab "Itu kan udah habis, de".

Tiba-tiba si bocah tersebut mengambil mangkuk soto yang ada disampingnya, kemudian membawanya ke arah teman-temannya. Bergantian, mereka mengunyah apa saja yang masih tersisa di antara kuah soto tersebut. Kol, suiran ayam, mie, walaupun tidak banyak, mereka terlihat begitu menikmatinya.

Dan, yah... Mereka bergantian menyantap sisa-sisa soto tersebut.

Si cowok kaget. Ia merasa begitu berdosa, ketika tadi bocah tersebut bertanya padanya ia tidak begitu menghiraukannya. Ia pikir, mereka seperti anak-anak jalanan yang biasa ia temui. Tapi ia salah.

Ia kemudian bangun dari duduknya dan memesan beberapa porsi nasi kucing, dengan beberapa gorengan. Membungkusnya dalam plastik kemudian memanggil bocah-bocah tersebut.

Sambil melambai-lambaikan tangannya, ia berkata "Kemarilah".

Dengan wajah polos, satu bocah mendekatinya.

"Makanlah" ucap si cowok sambil memberikan bungkusan berisi beberapa nasi kucing dan gorengan.

Si bocah mengucapkan terima kasih.

Dengan wajah girang, bocah tersebut berlari kecil menghampiri teman-temannya. Lalu menunjukan apa yang baru saja didapatkannya tersebut.

"Perut kita aman malam ini" ucap salah satu dari mereka.
Share: 

Dari Rock Lee, sampai Loki

Dari dulu, setiap kali mengikuti suatu serial, komik, film atau lainnya... Saya biasanya tidak begitu tertarik pada karakter utama. Entah bagaimana menjelaskannya. Saya malah lebih sering menyukai karakter-karakter pendukung, bahkan karakter antagonisnya. Bukan karakter utama.

Seperti tiga karakter ini: Rock Lee, Sanji, dan Loki.

Rock Lee
Mungkin ada yang belum tau siapa itu Rock Lee? Dia adalah salah satu teman sepermainan tokoh manga terkenal bernama Naruto.

Supaya tidak terjadi salah paham, saya akan jelaskan bahwa saya bukan pembaca setia manga Naruto. Kalian salah orang kalau bertanya kenapa Tsunade bisa awet muda ke saya, atau kenapa Kakashi selalu menyembunyikan mulutnya.

Lalu pertanyaannya, kenapa saya bisa menyukai karakter bergaya rambut culun ini?

Jadi, suatu hari saya tidak sengaja menonton tayangan Naruto di tv Indonesia. Waktu itu, sensor belum semengerikan sekarang. Sensor masih sangat wajar waktu itu. Hanya diwajibkan untuk acara-acara berita yang menampilkan gambar korban kecelakaan, atau film-film barat yang menampilkan belahan dada dan pangkal paha, atau semacamnya.

Waktu itu episode yang sedang tayang adalah pertarungan  Rock Lee melawan Gaara (semoga saya tidak salah menulisnya). Rock Lee dan Gaara sedang bertarung satu lawan satu. Layaknya pertarungan antar ninja yang dikemas dengan gaya khas anime jepang, pertarungan terlihat begitu keren untuk disaksikan.

Yang paling menarik adalah gaya bertarung dari si Rock Lee. Ada satu keunikan pada dirinya, yang membedakan dia dengan ninja-ninja lainnya. Seperti yang kita tahu, biasanya ninja lebih sering menggunakan Ninjutsu ketimbang Taijutsu. Rock Lee malah tidak bisa Ninjutsu sama sekali.

Untuk yang belum tau; Ninjutsu adalah jurus-jurus / teknik-teknik ninja yang biasanya mengandalkan Chakra (tenaga dalam, atau semacamnya). Sedangkan Taijutsu adalah jurus-jurus / teknik-teknik yang mengandalkan kemampuan fisik murni sebagai seorang manusia.

Berdasarkan penjelasan dari seorang teman yang mengikuti cerita Naruto, Rock Lee adalah satu-satunya ninja di Konoha yang tidak bisa menguasai Ninjutsu. Entah apa alasannya. Namun karena semangatnya yang gigih dan kemauannya yang keras untuk menjadi ninja yang hebat, ia bisa menjadi ninja yang hebat walaupun tidak menguasai Ninjutsu.

Sebagai gantinya, ia berlatih begitu keras dan tekun mendalami teknik Taijutsu. Kehebatannya dalam menggunakan Taijutsu bahkan bisa mengimbangi teman-temannya yang bisa menguasai Ninjutsu.

Selain keunikan tersebut, salah satu yang membuat saya jatuh cinta pada karakter ini adalah penampilannya yang juga unik. Sebenarnya, penampilannya itu mengikuti guru sekaligus panutannya; Guru Guy (tolong jangan salah baca).

Sanji
Sanji adalah salah satu karakter yang ada dalam serial manga One Piece. Sama seperti Rock Lee, Sanji juga bukan karakter utama. Dia adalah kawan dari karakter utama, yaitu Luffy. Jika tadi saya berkata bahwa saya menyukai karakter Rock Lee padahal tidak mengikuti serial Naruto, maka kali ini kebalikannya.

Saya adalah pembaca setia manga One Piece. Bahkan selain membaca komiknya, saya juga senang membaca review-review, teori-teori, sampai seluk beluk dunia One Piece dari berbagai forum dan blog. Satu yang menurut saya menarik di serial mangan One Piece, yaitu plot-nya yang sangat kompleks.

Kalian tidak akan menyangka bahwa percakapan sepele pada suatu chapter, akan begitu bermakna pada chapter lainnya yang terbit ratusan chapter setelahnya. Konflik antar tokohnya saling berkaitan, dari yang sekedar lewat, sampai tokoh-tokoh besar.

Setiap karakter di manga One Piece memiliki sifat dan karakter yang unik. Memiliki latar belakangnya sendiri-sendiri. Umpama Soichiro Oda membuat komik spin-off  yang mengangkat cerita seputar karakter-karakter dari manga One Piece, saya yakin seluruh pembaca setia One Piece akan dengan senang hati membacanya.

Sejauh ini, Soichira Oda adalah mangaka terbaik menurut saya.

Kalau dalam serial Naruto kita disuguhkan pertarungan dengan teknik-teknik ninja, di One Piece kita akan disuguhi pertarungan para bajak laut yang menggunakan kekuatan dari Buah Setan. Setiap orang yang memakan buah setan tertentu, akan mendapatkan kekuatan unik yang dibawa oleh buah Setan Tertentu. Biasanya satu kekuatan hanya ada dalam satu buah setan, dan tidak ada copy-annya.

Sama seperti Rock Lee, Sanji juga punya satu keunikan. Dia adalah satu-satunya kru Bajak Laut Topi Jerami yang tidak menggunakan senjata ataupun kekuatan Buah Setan dalam bertarung. Ia bertarung menggunakan kekuatan fisiknya secara murni. Gaya bertarungnya adalah menggunakan kaki, perpaduan antara Capoeira, Taekwondo, dan teknik beladiri kaki lainnya.

Keunikan lain dari karakter ini adalah pada sifatnya. Ia adalah pria yang tidak bisa menyakiti wanita sedikitpun. Itu dibuktikan dalam beberapa kali "pertarungannya" dengan wanita. Ia tidak melawan sama sekali ketika lawannya adalah seorang wanita. Alashil, ia selalu babak belur, bahkan hampir mati ketika harus berhadapan dengan musuh wanita.

Loki
Kalau dua karakter diatas adalah karakter dari manga, maka kali ini adalah dari keluarga Marvel. Mungkin tokoh yang satu ini akan sedikit lebih familiar untuk banyak orang. Yeah, dia adalah adik, sekaligus rival abadi sang dewa petir, Thor.

Entah kenapa, sejak pertama kali menyaksikan film Thor yang pertama, saya langsung suka dengan karakter dewa yang satu ini. Tom Hiddleston rupanya memang aktor yang berbakat, ia bisa menguasai karakter Loki dengan sangat baik.

Yang paling saya suka dari karakter ini adalah pembawaannya yang santai, walau dibenaknya banyak rencana jahat yang siap merepotkan para penghuni Asgard. Adegan paling saya suka adalah ketika ia berbincang-bincang dengan Thor, ketika Thor membebaskannya secara sembunyi-sembunyi dari penjara Asgard lalu meminta bantuannya.

Oh, saya lupa. Ada satu blog lagi yang harus saya update. Sekian, Selamat malam.
Share: 

Kamis, 25 Februari 2016

Mirip Akang

Suatu hari, teman-teman masa SMP mengajak saya untuk turut ikut serta meramaikan acara buka puasa bersama. Niatnya, acara buka puasa bersama tersebut hanya akan dihadiri beberapa orang saja, bukan acara buka bersama besar-besaran.

Karena memang sedang tidak ada jadwal yang bentrok, saya memastikan diri akan datang. Singkatnya, lokasi pertemuan sudah diberitahukan ke semua yang di undang. Karena saya tidak tau tempatnya, saya menghubungi Yudi (yang juga kebetulan akan datang).

Yudi mengetahui lokasi pertemuan. Karena rumah saya dan Yudi tidak terlalu jauh, akhirnya kami janjian untuk jalan bareng ke lokasi pertemuan.

---
Hari yang ditentukan akhirnya tiba. Sore hari, saya datang ke tempat janjian dengan Yudi. Ternyata Yudi tidak sendiri, dia bersama Eko. Tanpa melepas helm, saya menyapa dan bersalaman dengan mereka.

Karena waktu sudah hampir menunjukan pukul 5, kami segera bergegas. Takut-takut nanti jalanan macet dan kami telat sampai.

Setelah beberapa menit perjalanan, kami sampai ditempat pertemuan. Sebuah kafe kecil, yang keliatannya nyaman untuk makan-makan dan ngumpul sambil ngopi (tanpa sianida tentunya).

Setelah memarkir motor dan melepas helm, Eko segera menghampiri saya.

"Akang..." sambil cengengesan.

"Akang?" saya kebingungan dengan apa yang dikatakan Eko.

Yudi tersenyum melihat saya kebingungan.

"Rambut" ujar Yudi sambil menunjuk ke rambut saya.

"Rambut?" saya tambah bingung.

Beberapa menit kemudian teman-teman kami yang lainnya datang. Kami masuk dan memesan makanan.

...

Sambil menikmati hidangan buka puasa, saya membuka google dan mencari tau apa yang dikatakan Eko. Di dampingi penjelasan dari Yudi, belakangan saya tau kalau Akang yang dimaksud adalah seorang tokoh fiksi dari serial yang sedang ngetrend di televisi.

Karena jarangnya saya nongkrong di depan televisi, saya baru tau tokoh tersebut hari itu.
Share: 

Rabu, 24 Februari 2016

Makan, suatu hari

Ada dua warung makan yang berdiri berdampingan. Satu warung makan A dengan menu yang sebagian besar berasal dari hewan, satu lagi warung makan B dengan menu yang sedikit lebih beragam. Setelah berpikir dengan berbagai macam pertimbangan (mulai dari efeknya pada tubuh dan lingkungan), akhirnya kami memilih makan diwarung B.

Oh, abaikan alasan diatas.

Sebenarnya, warung makan A terkenal memiliki harga yang mahal untuk menu-menu makanannya. Sedangkan warung B, harganya cukup terjangkau (baca: murah abis) dan pas untuk kantong cowok-cowok seperti kami.

"Mungkin harganya bakal lebih ramah dompet dari warung a" ucap Rizky.

Singkat cerita, makanan sudah habis. Setelah menyelesaikan urusan administrasi dengan pemilik warung, kami keluar dan melanjutkan perjalanan. Beberapa kelompok orang berdatangan, masuk ke dalam warung yang akan kami tinggalkan.

"Tau siapa mereka?" tanya Ardi.

Karena memang tidak kenal dengan orang-orang tersebut, saya dan Rizky spontan menjawab berbarengan "Ga tau".

"Mereka adalah para pegawai warung makan A".
Share: