Postingan

Peraturan yang Aneh

Dulu, ketika masih anak ingusan, saya dan teman-teman senang melakukkan permainan-permainan luar ruangan—hal yang juga banyak dilakukkan anak-anak pada masa itu. Karena pada masa itu tablet dan smartphone belum banyak dijual di toko-toko. Sebentar, dua kali saya menulis “masa itu”, kesannya saya tua banget.

Well, intinya dulu saya dan teman-teman senang bermain bola, benteng, petak umpet, dan permainan-permainan sejenis. Dari sekian banyak permainan yang pernah kami mainkan, permainan bola adalah salah satu yang paling saya ingat.

Entah ini terjadi pada semua anak-anak di seluruh belahan dunia atau hanya pada bocah-bocah ditempat saya saja. Kami bermain bola dengan peraturan yang—kalau dipikir-pikir sekarang—sangat aneh.

Jadi, biar saya ceritakan sedikit bagaimana cara kami bermain bola pada masa itu. Oh, shit, “masa itu” lagi.

Ada satu lapangan yang biasa kami gunakan untuk bermain bola. Lapangan tersebut bukanlah lapangan bola, melainkan lapangan bulu tangkis. Setiap malam, lapangan…

LGBT

Saya sedang dalam perjalanan menuju suatu tempat, ketika akhirnya saya melihat segerombolan orang berseragam menyetop para pengendara motor. Saya tidak asing dengan seragam tersebut. Sebelum sampai diberhentikan oleh gerombolan tersebut, saya menghentikan laju motor, lirak-lirik, plonga-plongo, dan memasang gestur panik.

Dan, dapat. Seseorang tidak berseragam menyapa saya dari belakang. Di lihat dari lagaknya, sepertinya ia adalah bagian dari orang-orang berseragam tersebut. Dan benar.

"Surat-surat!" ucap orang tersebut.

Mengerti apa yang dimaksud, saya kemudian membuka tas, mengambil dompet. Lalu mengeluarkan STNK dan menyerahkannya pada orang tersebut. Setelah melihat STNK saya, ia bertanya.

"SIM-nya ngga ada?" tanyanya penuh harap.

"Ada lah, pak" jawab saya.

Kemudian saya memberikan SIM, dan ia menerimanya. Kemudian memeriksanya. Belum puas melihat STNK dan SIM saya, orang tersebut masih mencoba mencari celah.

"Coba buka jok motornya" ucap or…

Taman di utara Kota Bekasi

Jadi, di utara kota Bekasi ada sebuah taman kota yang tidak terlalu luas juga tidak terlalu kecil. Ketika malam tiba, taman tersebut akan ramai oleh para pengunjung, mulai dari anak muda muda sampai orang tua. Salah satu yang membuat taman tersebut ramai adalah para pedagang kaki lima yang menjajakan dagangannya disisi-sisi taman.
Kebanyakan adalah para penjual makanan dan jajanan. Mulai dari roti bakar, soto, gorengan, sampai dengan nasi kucing dan es teh manis. Setiap pedagang biasanya memiliki tiker, yang nantinya akan mereka gelar jika ada pengunjung yang membeli makanannya. Jadi, para pembeli akan duduk lesehan sambil menyantap makanan ataupun jajanan yang mereka beli sambil ngobrol-ngobrol dengan kawan, ataupun pacar.
Tidak jarang juga ada keluarga kecil yang lesehan sambil makan-makan dan menikmati malam bersama suami atau isteri dan anak.
Suatu malam, di taman tersebut. Duduk dua orang muda-mudi. Seperti pengunjung lainnya, muda-mudi ini juga sedang menyantap makanan. Si cewek me…

Dari Rock Lee, sampai Loki

Dari dulu, setiap kali mengikuti suatu serial, komik, film atau lainnya... Saya biasanya tidak begitu tertarik pada karakter utama. Entah bagaimana menjelaskannya. Saya malah lebih sering menyukai karakter-karakter pendukung, bahkan karakter antagonisnya. Bukan karakter utama.

Seperti tiga karakter ini: Rock Lee, Sanji, dan Loki.

Rock Lee
Mungkin ada yang belum tau siapa itu Rock Lee? Dia adalah salah satu teman sepermainan tokoh manga terkenal bernama Naruto.

Supaya tidak terjadi salah paham, saya akan jelaskan bahwa saya bukan pembaca setia manga Naruto. Kalian salah orang kalau bertanya kenapa Tsunade bisa awet muda ke saya, atau kenapa Kakashi selalu menyembunyikan mulutnya.

Lalu pertanyaannya, kenapa saya bisa menyukai karakter bergaya rambut culun ini?

Jadi, suatu hari saya tidak sengaja menonton tayangan Naruto di tv Indonesia. Waktu itu, sensor belum semengerikan sekarang. Sensor masih sangat wajar waktu itu. Hanya diwajibkan untuk acara-acara berita yang menampilkan gambar kor…

Mirip Akang

Suatu hari, teman-teman masa SMP mengajak saya untuk turut ikut serta meramaikan acara buka puasa bersama. Niatnya, acara buka puasa bersama tersebut hanya akan dihadiri beberapa orang saja, bukan acara buka bersama besar-besaran.

Karena memang sedang tidak ada jadwal yang bentrok, saya memastikan diri akan datang. Singkatnya, lokasi pertemuan sudah diberitahukan ke semua yang di undang. Karena saya tidak tau tempatnya, saya menghubungi Yudi (yang juga kebetulan akan datang).

Yudi mengetahui lokasi pertemuan. Karena rumah saya dan Yudi tidak terlalu jauh, akhirnya kami janjian untuk jalan bareng ke lokasi pertemuan.

---
Hari yang ditentukan akhirnya tiba. Sore hari, saya datang ke tempat janjian dengan Yudi. Ternyata Yudi tidak sendiri, dia bersama Eko. Tanpa melepas helm, saya menyapa dan bersalaman dengan mereka.

Karena waktu sudah hampir menunjukan pukul 5, kami segera bergegas. Takut-takut nanti jalanan macet dan kami telat sampai.

Setelah beberapa menit perjalanan, kami sampai di…