Postingan

Sesekali Kita Perlu Melakukan Percakapan-percakapan Keren, Seperti Di Film-film

Di sela-sela menjalani hidup yang singkat ini, sepertinya kita sesekali perlu melakukan percakapan-percakapan keren.

Setidaknya seperti yang sering ada di film-film.

Berikut ini adalah percakapan (seperti di film) yang menurut saya keren:

Berdiri berdua di pinggir danau, entah itu dengan teman, pacar, atau mantan.

Kemudian kita berdua mulai mengobrol tanpa menatap satu sama lain, melainkan menatap danau yang tenang dan hening.

Serius, saya selalu suka kalau ada adegan percakapan seperti ini di film.

Atau, bisa juga seperti ini:

Kita ngobrol dengan seseorang, seseorang yang sudah sangat dekat. Bisa sahabat, pacar, atau seseorang yang ingin kita miliki tapi ada tembok besar yang menghalangi.

Kemudian ia menceritakan rahasia tergelapnya pada kita, rahasia yang tidak akan pernah (dan tidak ingin) ia ceritakan pada siapapun selain kita.

Tapi bukannya terkejut, kita tetap cool dan berkata "Ya, tidak apa. Kalau jadi kamu, aku mungkin juga akan melakukan hal yang sama". Atau jawaban sema…

Peraturan yang Aneh

Dulu, ketika masih anak ingusan, saya dan teman-teman senang melakukkan permainan-permainan luar ruangan—hal yang juga banyak dilakukkan anak-anak pada masa itu. Karena pada masa itu tablet dan smartphone belum banyak dijual di toko-toko. Sebentar, dua kali saya menulis “masa itu”, kesannya saya tua banget.

Well, intinya dulu saya dan teman-teman senang bermain bola, benteng, petak umpet, dan permainan-permainan sejenis. Dari sekian banyak permainan yang pernah kami mainkan, permainan bola adalah salah satu yang paling saya ingat.

Entah ini terjadi pada semua anak-anak di seluruh belahan dunia atau hanya pada bocah-bocah ditempat saya saja. Kami bermain bola dengan peraturan yang—kalau dipikir-pikir sekarang—sangat aneh.

Jadi, biar saya ceritakan sedikit bagaimana cara kami bermain bola pada masa itu. Oh, shit, “masa itu” lagi.

Ada satu lapangan yang biasa kami gunakan untuk bermain bola. Lapangan tersebut bukanlah lapangan bola, melainkan lapangan bulu tangkis. Setiap malam, lapangan…

LGBT

Saya sedang dalam perjalanan menuju suatu tempat, ketika akhirnya saya melihat segerombolan orang berseragam menyetop para pengendara motor. Saya tidak asing dengan seragam tersebut. Sebelum sampai diberhentikan oleh gerombolan tersebut, saya menghentikan laju motor, lirak-lirik, plonga-plongo, dan memasang gestur panik.

Dan, dapat. Seseorang tidak berseragam menyapa saya dari belakang. Di lihat dari lagaknya, sepertinya ia adalah bagian dari orang-orang berseragam tersebut. Dan benar.

"Surat-surat!" ucap orang tersebut.

Mengerti apa yang dimaksud, saya kemudian membuka tas, mengambil dompet. Lalu mengeluarkan STNK dan menyerahkannya pada orang tersebut. Setelah melihat STNK saya, ia bertanya.

"SIM-nya ngga ada?" tanyanya penuh harap.

"Ada lah, pak" jawab saya.

Kemudian saya memberikan SIM, dan ia menerimanya. Kemudian memeriksanya. Belum puas melihat STNK dan SIM saya, orang tersebut masih mencoba mencari celah.

"Coba buka jok motornya" ucap or…

Taman di utara Kota Bekasi

Jadi, di utara kota Bekasi ada sebuah taman kota yang tidak terlalu luas juga tidak terlalu kecil. Ketika malam tiba, taman tersebut akan ramai oleh para pengunjung, mulai dari anak muda muda sampai orang tua. Salah satu yang membuat taman tersebut ramai adalah para pedagang kaki lima yang menjajakan dagangannya disisi-sisi taman.
Kebanyakan adalah para penjual makanan dan jajanan. Mulai dari roti bakar, soto, gorengan, sampai dengan nasi kucing dan es teh manis. Setiap pedagang biasanya memiliki tiker, yang nantinya akan mereka gelar jika ada pengunjung yang membeli makanannya. Jadi, para pembeli akan duduk lesehan sambil menyantap makanan ataupun jajanan yang mereka beli sambil ngobrol-ngobrol dengan kawan, ataupun pacar.
Tidak jarang juga ada keluarga kecil yang lesehan sambil makan-makan dan menikmati malam bersama suami atau isteri dan anak.
Suatu malam, di taman tersebut. Duduk dua orang muda-mudi. Seperti pengunjung lainnya, muda-mudi ini juga sedang menyantap makanan. Si cewek me…

Dari Rock Lee, sampai Loki

Dari dulu, setiap kali mengikuti suatu serial, komik, film atau lainnya... Saya biasanya tidak begitu tertarik pada karakter utama. Entah bagaimana menjelaskannya. Saya malah lebih sering menyukai karakter-karakter pendukung, bahkan karakter antagonisnya. Bukan karakter utama.

Seperti tiga karakter ini: Rock Lee, Sanji, dan Loki.

Rock Lee
Mungkin ada yang belum tau siapa itu Rock Lee? Dia adalah salah satu teman sepermainan tokoh manga terkenal bernama Naruto.

Supaya tidak terjadi salah paham, saya akan jelaskan bahwa saya bukan pembaca setia manga Naruto. Kalian salah orang kalau bertanya kenapa Tsunade bisa awet muda ke saya, atau kenapa Kakashi selalu menyembunyikan mulutnya.

Lalu pertanyaannya, kenapa saya bisa menyukai karakter bergaya rambut culun ini?

Jadi, suatu hari saya tidak sengaja menonton tayangan Naruto di tv Indonesia. Waktu itu, sensor belum semengerikan sekarang. Sensor masih sangat wajar waktu itu. Hanya diwajibkan untuk acara-acara berita yang menampilkan gambar kor…