Peraturan yang Aneh

Dulu, ketika masih anak ingusan, saya dan teman-teman senang melakukkan permainan-permainan luar ruangan—hal yang juga banyak dilakukkan anak-anak pada masa itu. Karena pada masa itu tablet dan smartphone belum banyak dijual di toko-toko. Sebentar, dua kali saya menulis “masa itu”, kesannya saya tua banget.

Well, intinya dulu saya dan teman-teman senang bermain bola, benteng, petak umpet, dan permainan-permainan sejenis. Dari sekian banyak permainan yang pernah kami mainkan, permainan bola adalah salah satu yang paling saya ingat.

Entah ini terjadi pada semua anak-anak di seluruh belahan dunia atau hanya pada bocah-bocah ditempat saya saja. Kami bermain bola dengan peraturan yang—kalau dipikir-pikir sekarang—sangat aneh.

Jadi, biar saya ceritakan sedikit bagaimana cara kami bermain bola pada masa itu. Oh, shit, “masa itu” lagi.

Ada satu lapangan yang biasa kami gunakan untuk bermain bola. Lapangan tersebut bukanlah lapangan bola, melainkan lapangan bulu tangkis. Setiap malam, lapangan tersebut digunakan oleh warga sekitar untuk bermain bulu tangkis.

Biasanya yang sering bermain bulu tangkis adalah dari kalangan laki-laki dewasa. Bulu tangkis adalah hiburan yang sempurna, setelah seharian penat dengan pekerjaan dan urusan perut lainnya.

Dan dari pagi sampai sore hari, lapangan tersebut kosong. Karenanya, setiap sore saya dan kawan-kawan menggunakan lapangan tersebut untuk bermain bola. Seperti gerombolan bocah seumuran kami lainnya, jumlah kami tidak terlalu banyak.

Jika beruntung semua personil sedang lengkap, biasanya kami akan bermain menggunakan dua gawang. Membagi diri menjadi dua kelompok. Karena lapangan yang kami gunakan adalah lapangan bulu tangkis, maka tidak ada gawang sungguhan disini.

Kami menggunakan apa saja yang bisa digunakan untuk mewakili fungsi sebuah “gawang”. Mulai dari batu, sampai dengan sendal. Ya, sesederhana itu. Tidak ada jaring ataupun tiang. Karena sebagai bocah-bocah ingusan waktu itu, kami tidak punya budget untuk membeli gawang sungguhan.

Jangankan membeli gawang, membeli es teh pun kami kadang hanya mengandalkan satu teman. Satu es teh dinikmati beramai-ramai.

Kembali lagi ke masalah gawang. Peraturan aneh yang saya singgung di awal catatan ini, sangat erat kaitannya dengan gawang tersebut. Ingat, tidak ada tiang dan jaring pada “gawang” yang kami gunakan.

Jadi untuk mengira-ngira tinggi “gawang” tersebut, kami biasanya menyesuaikan dengan tinggi kipernya. Jika kipernya pendek, maka gawanya juga harus pendek. Dan jika kipernya kebetulan tinggi, maka tinggi “gawang” tersebut juga harus tinggi.

Sudah menemukan keanehannya?

Jadi, jika kebetulan kami sedang bermain dua gawang (maksudnya dua tim), dan salah satu kipernya pendek maka “gawang” yang ia jaga pun akan pendek. Sedangkan tim lain yang kebetulan kipernya tinggi, maka gawanya pun akan ikut tinggi.

Sangat tidak fair. Jika saya menendang agak tinggi ke arah gawang lawan dengan kiper yang pendek dan ia tidak bisa menangkapnya, maka tendangan saya tidak akan dihitung gol. Itu karena kipernya pendek.

Sebaliknya, pemain lawan yang menendang dengan ketinggian yang sama ke arah gawang saya dan menendang dengan ketinggian yang sama maka tendangannya akan dihitung gol. Itu karena kiper saya tinggi.

Walaupun peraturannya aneh, namun saat itu tidak ada yang mempermasalahkan hal tersebut. Peraturan aneh tersebut adalah peraturan tak tertulis yang hebatnya diamini oleh kami semua.
Oh, sebenarnya, dulu saya sempat melakukan protes kecil.

“Kenapa tinggi gawangnya harus berdasarkan tinggi kiper?” tanya saya dengan nada protes ditengah-tengah permainan.

Entah karena sedang sibuk konsentrasi bermain, tidak ada teman-teman yang menggubris protes saya. Atau mungkin mereka tidak ingin mengubah tradisi turun temurun yang telah diwariskan oleh anak-anak sebelum kami. Akhirnya, saya pun tetap bermain dengan mengikuti peraturan aneh tersebut.

Hari ini, bertahun-tahun setelah saya tidak bermain bola dengan peraturan aneh tersebut, saya mendapati satu hal yang sama. Bukan sebuah peraturan permainan bola aneh yang dulu saya mainkan. Melainkan sesuatu yang lebih penting, dan besar.

Saya sangat ingin memprotesnya. Sama seperti ketika saya memprotes peraturan bola aneh yang dulu saya mainkan. Namun, saya khawatir mendapatkan jawaban yang sama yaitu tidak dijawab.

Akhirnya, saya diam.

Saya tahu, ada banyak orang diluar sana yang juga sadar dengan keanehan ini. Namun sama halnya dengan saya, mereka juga tidak bisa—atau lebih tepatnya tidak mau—protes karena mereka sudah tahu jawaban apa yang akan mereka dapat.

Komentar

Pos populer dari blog ini

LGBT

Dari Rock Lee, sampai Loki

Taman di utara Kota Bekasi